Selasa, 10 Desember 2013

Sifilis

SIFILIS
MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Biologi Reproduski
Dosen  Pengampu: Dr. Dewi Cahyani M.Pd.






Disusun oleh: Kelompok 4
1.                  Luthfia Zahra             (14111620080)
2.                  Neneng Aida M         (14111610037)
3.                  Rika Rizkawati           (14111610047)
Biologi. A/ 5

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2013
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmanirrahiim,
Puji syukur kehadirat Allah SWT.,  karena berkat  rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang bertemakan “penyakit yang menyerang organ reproduksi berupa ‘’SIFILIS’” sebagai tugas terstruktur. Penulisan makalah yang disusun merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan tugas dalam mata kuliah Bio Reproduksi dengan dosen pengampu Ibu Dr. Dewi Cahyani, MM., M.Pd.
Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan makalah masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan serta kesalahan yang tidak disengaja, baik dari segi isi, dan penyajian bahasa. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan serta waktu yang di miliki. Oleh karena itu atas segala kekurangan yang telah diperbuat mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis  menerima tegur dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini. Besar harapan penyusun mudah-mudahan makalah yang disusun ini dapat bermanfaat umumnya bagi para pembaca dan khususnya bagi kami mahasiswa biologi.


Cirebon, 11 Desember  2013

Penyusun
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Didalam mata kuliyah biologi reproduksi banyak sekali dipelajari yang berkaitan dengan organ-organ reproduksi, embriologi, sampai dengan penyakit-penyakit yang menyerang organ reproduksi. Organ reproduksi manusia sangat rentan dengan penyrangan penyakit, oleh sebab itu apabila tidak hati-hati dalam merawat kebersihan organ tersebut maka akan berakibat fatal.
Banyaknya kaum awam yang kurang memahami tentang pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi atau mencegah terjangkitnya penyakit kelamin. Karena latar belakang tersebut kami mengambil salah satu contoh penyakit yang menyerang organ reproduksi yaitu sifilis. Sifilis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri tertentu yang menyerang organ reproduksi. Penyakit ini terjadi biasanya karena adanya hubungan seksual yang tidak sehat atu tidak benar.

B.  Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian dari sifilis?
2.    Sebutkan klasifikasi dari penyakit sifilis?
3.    Bagaimana gejala yang dialami oleh penderita sifilis?
4.    Bagaimana penularan penyakit sifilis?
5.    Bagaimana cara penanganan penderita yang sudah terkena sifilis?
6.    Bagaimana cara pencegahan agar tidak terkena sifilis?

C.  Tujuan
1.     Mengetahui tentang pengertian dari sifilis
2.    Mengetahui macam-macam dari penyakit sifilis
3.    Mengetahui gejala-gejala orng yang terkena sifilis
4.    Mengetahui penularan dari penyakit sifilis
5.    Mengetahui penanganan cara orang yang sudah terkena penyakit sifilis
6.    Mengetahui cara pencegahan agar tidak terkena penyakit sifilis?

KELAINAN SIFILIS
A.  Pengertian Sifilis
Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Penyebab penyakit ini adalah Treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.
Ketika bakteri penyebab sifilis sudah masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir, misalnya melalui vagina, mulut atau melalui kulit, dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat. Kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.
Di Indonesia, pada beberapa puluh tahun yang lalu, nama “PHS” yang paling terkenal adalah “Raja Singa”, yang menjadi korban umunya adalah kaum dewasa, antara usia 19-35 tahun. Tetapi yang kini muncul dan lebih memprihatinkan adalah penderita penderita PHS bukan hanya orang-orang yang telah dewasa, tetapi dari kalangan remaja telah menjadi korbannya. Hal ini, bukan rahasia lagi. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang dalam 4 tingkatan:
1)      Tingkat  primer
Sifilis tingkat primer biasa ditandai dengan luka tunggal (chancre) dan  bisa menjadi luka bergerombol. Waktu antara terinfeksi sifilis dengan waktu terlihatnya gejala pertama antara 10-90 hari,atau berkisar0- 3 bulan setelah terinfeksi. Chancre biasanya menetap, bundar, kecil dan tanpa rasa sakit. Kebanyakan chancre muncul pada penis, anus, dan rektum  pada pria, sedangkan pada wanita pada vulva, leher rahim dan antara vagina dan anus (perineum). Selain itu dapat terbentuk di bibir, tangan, atau mata.  Chancre akan hilang 3-6 minggu dan akan sembuh tanpa  pengobatan. Tetapi bagaimanapun juga jika pengobatan sedini mungkin tidak dilakukan, maka infeksi akan berkembang ke tingkat sekunder.
2)     Tingkat sekunder
Gejala klinis pada stadium ini biasanya terjadi 6 minggu setelah pecahnya Chancre atau selambat-lambatnya 6 bulan setelah infeksi. Gejala-gejala sifilis sekunder menyebabkan demam, pembengkakan kelenjar limfa, tenggorokan kering, rambut rontok, sakit kepala, kehilangan berat badan, sakit otot dan mudah lelah serta muncul bintik-bintik merah/ruam pada kulit (rash) dan luka membran mukosa . Tanda-tanda gejala sifilis  tingkat sekunder akan hilang dengan atau tanpa pengobatan, namun tanpa pengobatan infeksi akan kembali berkembang menjadi masa laten dan kemungkinan ketingkat akhir.
3)     Tingkat Laten
Tingkat   laten biasa disebut  fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala-gejala klinik sifilis sekunder dan tumbuh gejala tersier.Tingkat  laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis.
4)     Tingkat Tersier
Pada stadium tersier muncul kelainan-kelainan yang terjadi akibat reaksi alergi dari jaringan terhadap organisme yang berupa reaksi gumma. Kelainan yang terjadi berupa rusaknya organ dalam seperti otak, syaraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan persendian.
B.  Klasifikasi Sifilis
1.     Sifilis didapat (Acquired syphilis), merupakan penyakit yang didapat seseorang  yang disebabkan karena melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sudah terinfeks lebih dulu.Gejalanya adalah kelainan kulit berupa bercak kemerahan tetapi tidak gatal terutama ditelapak tangan dan kaki,ada pembesaran kelenjar getah bening diseluruh tubuh,dan bisa juga berupa kutil disekitar alat kelamin dan anus.
2.     Sifilis congenital (Congenital syphilis), penyakit yang diperoleh bayi dari ibu yang telah terinfeksi sifilis,,dimana bakteri Treponema pallidium menembus plasenta dan masuk kedalam peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh jaringan.Kemudian berkembang biak kemudian menyebabkan respon  peradangan selular yang akan merusak janin.Kelaianan yang timbul dapat  bersifat fatal sehingga dapat terjadi abortus atau lahir mati atau terjadi gangguan pertumbuhan pada berbagai tingkat kehidupan intra uteri maupun ekstra uteri. Sifilis kongenital yang  muncul pada dua tahun pertama kehidupan anak disebut sifilis kongenital dini,dan yang muncul setelah itu disebut sifilis kongenital lanjut. Gejala dan tanda pada sifilis kongenital dini adalah sumbatan hidung,bercak pada mukosa,serta ruam makulopapular dan kandilomata lata.
  1. Gejala penderita sifilis
Gejala Sifilis dapat dilihat berdasarkan tahapan infeksi Treponema pallidum menjadi 4 fase, yaitu :
1)   Fase Primer
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang terinfeksi; yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga bisa ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari tangan atau bagian tubuh lainnya. Biasanya penderita hanya memiliki1 ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi suatu ulkus (luka terbuka), tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular. Kelenjar getah bening terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai nyeri. Luka tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak dihiraukan. Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya penderita tampak sehat secara keseluruhan.
2)   Fase Sekunder
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru. Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50% penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Sekitar 10% penderita mengalami peradangan pada tulang dan sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa menyebabkan bocornya protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa menyebabkan sakit kuning (jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada selaput otak (meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala, kaku kuduk dan ketulian.
Di daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit yang lembab, bisa terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata). Daerah ini sangat infeksius (menular) dan bisa kembali mendatar serta berubah menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut mengalami kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak gambaran seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.
3)   Fase Laten
Pada fase ini tidak ada gejala sama sekali, seperti sembuh. Berlangsung selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, namun bisa muncul kembali yang didukung oleh beberapa faktor, seperti menurunnya sistem imunitas, perilaku seksual yang tidak sehat, pola makan yang tidak teratur, merokok, pola hidup yang tidak bersih, pemaparan ulang bakteri Treponema pallidum.
4)   Fase terseier
Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala bervariasi mulai ringan sampai sangat parah. Gejala ini terbagi menjadi 3 kelompok utama :


1)    Sifilis tersier jinak
Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut gumma muncul di berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh secara bertahap dan meninggalkan jaringan parut. Benjolan ini bisa ditemukan di hampir semua bagian tubuh, tetapi yang paling sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas, wajah dan kulit kepala. Tulang juga bisa terkena, menyebabkan nyeri menusuk yang sangat dalam yang biasanya semakin memburuk di malam hari.
2)   Sifilis kardiovaskuler.
Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa terjadi aneurisma aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini bisa menyebabkan nyeri dada, gagal jantung atau kematian.
3)   Neurosifilis.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.
a. Neurosifilis meningovaskuler.
Merupakan suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang terjadi tergantung kepada bagian yang terkena, apakah otak saja atau otak dengan medulla spinalis:
- Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit kepala, pusing, konsentrasi yang buruk, kelelahan dan kurang tenaga, sulit tidur, kaku kuduk, pandangan kabur, kelainan mental, kejang, pembengkakan saraf mata (papiledema), kelainan pupil, gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan anggota gerak pada separuh badan.
- Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala berupa kesulitan dalam mengunyah, menelan dan berbicara; kelemahan dan penciutan otot bahu dan lengan; kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis); ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dan peradangan sebagian dari medulla spinalis yang menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih serta kelumpuhan mendadak yang terjadi ketika otot dalam keadaan kendur (paralisa flasid).

b. Neurosifilis paretik.
Juga disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila. Berawal secara bertahap sebagai perubahan perilaku pada usia 40-50 tahun. Secara perlahan mereka mulai mengalami demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam berbicara, kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah tersinggung, kesulitan dalam berkonsentrasi, kehilangan ingatan, sakit kepala, sulit tidur, lelah, letargi, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian, perubahan suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan kebesaran dan penurunan persepsi.
c. Neurosifilis tabetik.
Disebut juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit medulla spinalis yang progresif, yang timbul secara bertahap. Gejala awalnya berupa nyeri menusuk yang sangat hebat pada tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur. Penderita berjalan dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan berjalan dengan kedua tungkai yang terpisah jauh, kadang sambil mengentakkan kakinya.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih.
Bisa terjadi impotensi. Bibir, lidah, tangan dan seluruh tubuh penderita gemetaran. Tulisan tangannya miring dan tidak terbaca. Sebagian besar penderita berperawakan kurus dengan wajah yang memelas. Mereka mengalami kejang disertai nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung. Kejang lambung bisa menyebabkan muntah. Kejang yang sama juga terjadi pada rektum, kandung kemih dan pita suara. Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa terbentuk luka di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan pada akhirnya sampai ke tulang di bawahnya. Karena rasa nyeri sudah hilang, maka sendi penderita bisa mengalami cedera.


D.  Penularan sifilis
Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Luka terjadi terutama pada alat kelamin eksternal, vagina, anus, atau di dubur. Luka juga dapat terjadi di bibir dan dalam mulut, Wanita hamil dengan penyakit ini dapat terbawa ke bayi. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan.
Harus terjadi kontak langsung dengan kulit orang yang telah terinfeksi disertai dengan lesi infeksi sehingga bakteri bisa masuk ke tubuh manusia. Pada saat melakukan hubungan seksual (misal) bakteri memasuki vagina melalui sepalut lendir dalam vagina, anus atau mulut melalui lubang kecil.
E.  Penanganan Sifilis
Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk penderita sifilis, terdiri dari :
1. Tes Penyaringan
Tes penyaringan mudah dilakukan dan biayanya terjangkau meskipun perlu dilakukan tes ulang karena pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif.
2. Tes Antibodi
Tes antibodi adalah tes yang dilakukan terhadap bakteri penyebab sifilis. Salah satu pemeriksaan ini adalah tes FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption)yang digunakan untuk memperkuat hasil tes penyaringan yang positif. Pada fase primer atau sekunder, diagnosis sifilis diambil berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap cairan dari luka di kulit atau mulut. Selain itu, bisa juga menggunakan tes antibodi pada sampel darah.
Pengobatan pada penderita sifilis biasanya menggunakan antibiotik penicilin. Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu. Penderita sifilis fase primer atau sekunder bisa menularkan penyakitnya. Oleh karena itu, penderita harus menghindari hubungan seksual sampai penderita dan mitra seksualnya telah selesai menjalani pengobatan. Namun, karena malu banyak penderita yang menjalani pengobatan tanpa konsultasi pada ahlinya sehingga penyakitnya bertambah parah.
F.  Pencegahan Sifilis
Pencegahan yang paling efektif tentunya adalah tidak berhubungan langsung dengan orang yang memiliki penyakit kelamin menular. Setia pada pasangan dan tidak gonta-ganti pasangan adalah lebih baik bagi kehidupan seksual yang sehat. Pencegahan yang lainnya, terdiri dari :
a.    Tidak melakukan seks bebas, praktikan seks monogami dengan aman bersama pasangan
b.    Memakai kondom mengurangi risiko terinfeksi sifilis.
c.    Setiap ibu hamil harus di tes sifilis, agar bila terinfeksi dapat diterapi sesegera mungkin, dan tidak menginfeksi bayinya.
d.    Hindari kontak dengan jaringan yang terpapar langsung atau dengan cairan tubuh.
Gambar organisme berbentuk spiral yang menyebabkan sifilis
Bercak kemerahan yang luas pada badan penderita sifilis
DAFTAR PUSTAKA
http://yustinaverra.blogspot.com/2013/05/sifilis.html
http://katumbu.blogspot.com/2012/07/penyakit-sifilis-raja-singa.html