SIFILIS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Biologi Reproduski
Dosen Pengampu:
Dr. Dewi Cahyani M.Pd.
Disusun oleh: Kelompok 4
1.
Luthfia Zahra (14111620080)
2.
Neneng Aida M (14111610037)
3. Rika Rizkawati (14111610047)
Biologi. A/ 5
KEMENTERIAN
AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH
NURJATI
CIREBON
2013
KATA
PENGANTAR
Bismillaahirrahmanirrahiim,
Puji syukur kehadirat
Allah SWT., karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat
menyelesaikan penyusunan makalah yang bertemakan “penyakit yang menyerang organ
reproduksi berupa ‘’SIFILIS’” sebagai tugas
terstruktur. Penulisan makalah yang disusun merupakan salah satu persyaratan
untuk menyelesaikan tugas dalam mata kuliah Bio Reproduksi dengan dosen
pengampu Ibu Dr. Dewi Cahyani, MM., M.Pd.
Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan makalah masih jauh
dari sempurna dan masih banyak kekurangan serta kesalahan yang tidak disengaja,
baik dari segi isi, dan penyajian bahasa. Hal ini disebabkan terbatasnya
kemampuan serta waktu yang di miliki. Oleh karena itu atas segala kekurangan
yang telah diperbuat mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis menerima tegur
dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan
makalah ini. Besar harapan penyusun mudah-mudahan makalah yang disusun ini
dapat bermanfaat umumnya bagi para pembaca dan khususnya bagi kami mahasiswa
biologi.
Cirebon, 11
Desember 2013
Penyusun
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Didalam mata kuliyah biologi reproduksi banyak
sekali dipelajari yang berkaitan dengan organ-organ reproduksi, embriologi,
sampai dengan penyakit-penyakit yang menyerang organ reproduksi. Organ
reproduksi manusia sangat rentan dengan penyrangan penyakit, oleh sebab itu
apabila tidak hati-hati dalam merawat kebersihan organ tersebut maka akan
berakibat fatal.
Banyaknya kaum awam yang kurang memahami tentang
pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi atau mencegah terjangkitnya
penyakit kelamin. Karena latar belakang tersebut kami mengambil salah satu
contoh penyakit yang menyerang organ reproduksi yaitu sifilis. Sifilis
merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri tertentu yang menyerang
organ reproduksi. Penyakit ini terjadi biasanya karena adanya hubungan seksual
yang tidak sehat atu tidak benar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dari sifilis?
2.
Sebutkan
klasifikasi dari penyakit sifilis?
3.
Bagaimana
gejala yang dialami oleh penderita sifilis?
4.
Bagaimana
penularan penyakit sifilis?
5.
Bagaimana
cara penanganan penderita yang sudah terkena sifilis?
6.
Bagaimana
cara pencegahan agar tidak terkena sifilis?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
tentang pengertian dari sifilis
2.
Mengetahui
macam-macam dari penyakit sifilis
3.
Mengetahui
gejala-gejala orng yang terkena sifilis
4.
Mengetahui
penularan dari penyakit sifilis
5.
Mengetahui
penanganan cara orang yang sudah terkena penyakit sifilis
6.
Mengetahui
cara pencegahan agar tidak terkena penyakit sifilis?
KELAINAN SIFILIS
A. Pengertian Sifilis
Sifilis
adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya
melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung
dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Penyebab
penyakit ini adalah Treponema pallidum
yang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus
treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan
rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara
pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.
Ketika bakteri penyebab sifilis
sudah masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir, misalnya melalui
vagina, mulut atau melalui kulit, dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke
kelenjar getah bening terdekat. Kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui
aliran darah.
Di
Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan
angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi
kepada lelaki.
Di Indonesia, pada beberapa
puluh tahun yang lalu, nama “PHS” yang paling terkenal adalah “Raja Singa”,
yang menjadi korban umunya adalah kaum dewasa, antara usia 19-35 tahun. Tetapi
yang kini muncul dan lebih memprihatinkan adalah penderita penderita PHS bukan
hanya orang-orang yang telah dewasa, tetapi dari kalangan remaja telah menjadi korbannya.
Hal ini, bukan rahasia lagi. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang dalam 4 tingkatan:
1) Tingkat primer
Sifilis tingkat primer biasa ditandai dengan
luka tunggal (chancre) dan bisa menjadi luka bergerombol. Waktu antara
terinfeksi sifilis
dengan waktu terlihatnya gejala pertama antara 10-90 hari,atau berkisar0- 3 bulan setelah terinfeksi.
Chancre biasanya menetap, bundar, kecil dan tanpa rasa sakit. Kebanyakan
chancre muncul pada penis, anus, dan rektum pada pria, sedangkan pada wanita pada vulva,
leher rahim dan antara vagina dan anus (perineum). Selain itu dapat terbentuk
di bibir, tangan, atau mata. Chancre akan hilang 3-6 minggu dan akan
sembuh tanpa pengobatan. Tetapi bagaimanapun juga jika pengobatan sedini mungkin tidak dilakukan, maka
infeksi akan berkembang ke tingkat sekunder.
2) Tingkat sekunder
Gejala klinis pada stadium ini biasanya
terjadi 6 minggu setelah pecahnya Chancre atau selambat-lambatnya 6 bulan
setelah infeksi. Gejala-gejala sifilis
sekunder menyebabkan demam, pembengkakan
kelenjar limfa,
tenggorokan kering, rambut rontok,
sakit kepala, kehilangan berat badan, sakit otot dan mudah lelah serta muncul bintik-bintik
merah/ruam pada kulit (rash) dan luka membran mukosa . Tanda-tanda gejala sifilis tingkat sekunder akan hilang dengan atau tanpa
pengobatan, namun tanpa pengobatan infeksi akan kembali berkembang menjadi masa
laten dan kemungkinan ketingkat akhir.
3) Tingkat Laten
Tingkat laten
biasa disebut fase
tenang yang terdapat antara hilangnya gejala-gejala klinik sifilis sekunder dan tumbuh gejala tersier.Tingkat laten berlangsung bertahun-tahun karena
treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan
sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga
memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis.
4) Tingkat Tersier
Pada stadium tersier muncul kelainan-kelainan yang terjadi
akibat reaksi alergi dari jaringan terhadap organisme yang berupa reaksi gumma. Kelainan yang
terjadi berupa rusaknya organ dalam seperti otak, syaraf, mata, jantung,
pembuluh darah, hati, tulang, dan persendian.
B. Klasifikasi Sifilis
1.
Sifilis didapat (Acquired
syphilis), merupakan penyakit yang didapat seseorang yang disebabkan karena melakukan hubungan
seksual dengan pasangan yang sudah terinfeks lebih dulu.Gejalanya adalah
kelainan kulit berupa bercak kemerahan tetapi tidak gatal terutama ditelapak
tangan dan kaki,ada pembesaran kelenjar getah bening diseluruh tubuh,dan bisa
juga berupa kutil disekitar alat kelamin dan anus.
2. Sifilis
congenital (Congenital syphilis), penyakit yang diperoleh bayi dari
ibu yang telah terinfeksi sifilis,,dimana bakteri Treponema pallidium menembus
plasenta dan masuk kedalam peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh
jaringan.Kemudian berkembang biak kemudian menyebabkan respon peradangan selular yang akan merusak
janin.Kelaianan yang timbul dapat
bersifat fatal sehingga dapat terjadi abortus atau lahir mati atau
terjadi gangguan pertumbuhan pada berbagai tingkat kehidupan intra uteri maupun
ekstra uteri. Sifilis kongenital yang muncul pada dua tahun pertama kehidupan anak
disebut sifilis kongenital dini,dan yang muncul setelah itu disebut sifilis
kongenital lanjut. Gejala
dan tanda pada sifilis kongenital dini adalah sumbatan hidung,bercak pada
mukosa,serta ruam makulopapular dan kandilomata lata.
- Gejala penderita sifilis
Gejala
Sifilis dapat dilihat berdasarkan tahapan infeksi Treponema pallidum menjadi 4
fase, yaitu :
1)
Fase Primer
Terbentuk
luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang terinfeksi; yang
tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga bisa ditemukan di
anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari tangan atau
bagian tubuh lainnya. Biasanya penderita hanya memiliki1 ulkus, tetapi
kadang-kadang terbentuk beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah
penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi suatu ulkus (luka
terbuka), tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi
jika digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular. Kelenjar getah bening terdekat biasanya akan membesar,
juga tanpa disertai nyeri. Luka
tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak dihiraukan.
Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya penderita tampak
sehat secara keseluruhan.
2)
Fase Sekunder
Fase
sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam waktu 6-12
minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya sebentar atau selama
beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi
beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru. Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50%
penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan
sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak
menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf mata sehingga
penglihatan menjadi kabur. Sekitar 10% penderita mengalami peradangan pada tulang
dan sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa menyebabkan bocornya
protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa menyebabkan sakit kuning
(jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada selaput otak (meningitis
sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala, kaku kuduk dan ketulian.
Di
daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit yang lembab,
bisa terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata). Daerah ini sangat
infeksius (menular) dan bisa kembali mendatar serta berubah menjadi pink kusam
atau abu-abu. Rambut
mengalami kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak
gambaran seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan
(malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.
3) Fase
Laten
Pada fase ini tidak ada gejala
sama sekali, seperti sembuh. Berlangsung selama bertahun-tahun atau
berpuluh-puluh tahun, namun bisa muncul kembali yang didukung oleh beberapa
faktor, seperti menurunnya sistem imunitas, perilaku seksual yang tidak sehat,
pola makan yang tidak teratur, merokok, pola hidup yang tidak bersih, pemaparan
ulang bakteri Treponema pallidum.
4)
Fase terseier
Pada fase tersier penderita tidak lagi
menularkan penyakitnya. Gejala bervariasi mulai ringan sampai sangat parah.
Gejala ini terbagi menjadi 3 kelompok utama :
1)
Sifilis tersier
jinak
Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut
gumma muncul di berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh secara bertahap
dan meninggalkan jaringan parut. Benjolan ini bisa ditemukan di hampir semua
bagian tubuh, tetapi yang paling sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang
tubuh bagian atas, wajah dan kulit kepala. Tulang juga bisa terkena,
menyebabkan nyeri menusuk yang sangat dalam yang biasanya semakin memburuk di
malam hari.
2)
Sifilis
kardiovaskuler.
Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa
terjadi aneurisma aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini bisa menyebabkan
nyeri dada, gagal jantung atau kematian.
3)
Neurosifilis.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5%
penderita yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah
neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.
a. Neurosifilis meningovaskuler.
a. Neurosifilis meningovaskuler.
Merupakan
suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang terjadi tergantung kepada bagian
yang terkena, apakah otak saja atau otak dengan medulla spinalis:
-
Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit kepala, pusing, konsentrasi yang
buruk, kelelahan dan kurang tenaga, sulit tidur, kaku kuduk, pandangan kabur,
kelainan mental, kejang, pembengkakan saraf mata (papiledema), kelainan pupil,
gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan anggota gerak pada separuh badan.
-
Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala berupa kesulitan dalam
mengunyah, menelan dan berbicara; kelemahan dan penciutan otot bahu dan lengan;
kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis); ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih dan peradangan sebagian dari medulla spinalis yang
menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih serta kelumpuhan
mendadak yang terjadi ketika otot dalam keadaan kendur (paralisa flasid).
b. Neurosifilis paretik.
Juga
disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila. Berawal secara bertahap sebagai
perubahan perilaku pada usia 40-50 tahun. Secara perlahan mereka mulai
mengalami demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam berbicara,
kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah tersinggung, kesulitan
dalam berkonsentrasi, kehilangan ingatan, sakit kepala, sulit tidur, lelah,
letargi, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian, perubahan
suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan kebesaran dan penurunan
persepsi.
c. Neurosifilis tabetik.
Disebut
juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit medulla spinalis yang progresif,
yang timbul secara bertahap. Gejala awalnya berupa nyeri menusuk yang sangat
hebat pada tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur. Penderita berjalan
dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan berjalan dengan kedua tungkai
yang terpisah jauh, kadang sambil mengentakkan kakinya.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih.
Bisa terjadi impotensi. Bibir, lidah, tangan dan seluruh
tubuh penderita gemetaran. Tulisan
tangannya miring dan tidak terbaca. Sebagian besar penderita berperawakan kurus
dengan wajah yang memelas. Mereka mengalami
kejang disertai nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung. Kejang
lambung bisa menyebabkan muntah. Kejang yang sama juga terjadi pada rektum,
kandung kemih dan pita suara. Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa terbentuk
luka di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan pada akhirnya
sampai ke tulang di bawahnya. Karena rasa nyeri sudah hilang, maka sendi
penderita bisa mengalami cedera.
D. Penularan sifilis
Penularan
biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak
langsung dan kongenital sifilis
(penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Luka terjadi terutama pada alat
kelamin eksternal, vagina, anus, atau di dubur. Luka juga dapat terjadi di
bibir dan dalam mulut, Wanita hamil dengan penyakit ini dapat terbawa ke bayi.
Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang
lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks
oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama
masa kehamilan.
Harus terjadi
kontak langsung dengan kulit orang yang telah terinfeksi disertai dengan lesi
infeksi sehingga bakteri bisa masuk ke tubuh manusia. Pada saat melakukan
hubungan seksual (misal) bakteri memasuki vagina melalui sepalut lendir dalam
vagina, anus atau mulut melalui lubang kecil.
E. Penanganan
Sifilis
Pemeriksaan yang bisa
dilakukan untuk penderita sifilis, terdiri dari :
1. Tes
Penyaringan
Tes penyaringan mudah
dilakukan dan biayanya terjangkau meskipun perlu dilakukan tes ulang karena
pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif.
2. Tes
Antibodi
Tes antibodi adalah tes
yang dilakukan terhadap bakteri penyebab sifilis. Salah satu pemeriksaan ini
adalah tes FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption)yang
digunakan untuk memperkuat hasil tes penyaringan yang positif. Pada fase primer
atau sekunder, diagnosis sifilis diambil berdasarkan hasil pemeriksaan
mikroskopis terhadap cairan dari luka di kulit atau mulut. Selain itu, bisa
juga menggunakan tes antibodi pada sampel darah.
Pengobatan
pada penderita sifilis biasanya menggunakan antibiotik penicilin. Jika
penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau
tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu. Penderita sifilis fase primer atau
sekunder bisa menularkan penyakitnya. Oleh karena itu, penderita harus menghindari
hubungan seksual sampai penderita dan mitra seksualnya telah selesai menjalani
pengobatan. Namun, karena malu banyak penderita yang menjalani pengobatan tanpa
konsultasi pada ahlinya sehingga penyakitnya bertambah parah.
F. Pencegahan
Sifilis
Pencegahan
yang paling efektif tentunya adalah tidak berhubungan langsung dengan orang
yang memiliki penyakit kelamin menular. Setia pada pasangan dan tidak
gonta-ganti pasangan adalah lebih baik bagi kehidupan seksual yang sehat.
Pencegahan yang lainnya, terdiri dari :
a.
Tidak melakukan seks bebas,
praktikan seks monogami dengan aman bersama pasangan
b.
Memakai kondom mengurangi risiko
terinfeksi sifilis.
c.
Setiap ibu hamil harus di tes
sifilis, agar bila terinfeksi dapat diterapi sesegera mungkin, dan tidak
menginfeksi bayinya.
d.
Hindari kontak dengan jaringan
yang terpapar langsung atau dengan cairan tubuh.

Gambar
organisme berbentuk spiral yang menyebabkan sifilis

Bercak kemerahan yang
luas pada badan penderita sifilis
DAFTAR PUSTAKA
http://yustinaverra.blogspot.com/2013/05/sifilis.html
http://katumbu.blogspot.com/2012/07/penyakit-sifilis-raja-singa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar